Go and Do : Pergilah dan Berbuatlah Demikian !
Penulis : Don Everts
Penerbit : Literatur Perkantas
Tahun terbit : 2012
Halaman : 252 halaman
Di dalam buku ini, penulis menjelaskan bagaimana menjadi Kristen Bermisi. Buku ini terdiri dari dua bagian yaitu Anatomi dimana terdiri dari : Mata Sadar, Tangan Hamba, Kaki Siap Sedia, Hati yang Berbelas Kasih, dan Jiwa yang Bersukacita. Lalu bagian yang kedua adalah Geografi, terdiri dari Keluarga yang Penuh Tujuan, Penginjilan Relasional, Gereja yang Berkembang, Kemurahan Perkotaan, Kemitraan Global . Di bagian Anatomi, penulis menggunakan metafora-metafora tersebut untuk menjelaskan seperti apa Kristen Bermisi itu. Sedangkan bagian Geografis merupakan bagian praktis, dimana penulis mengajak pembaca untuk menggali kebijaksanaan dan nasihat orang – orang Kristen Bermisi yang sudah mendahului kita. Didalam buku ini di setiap babnya, penulis juga memasukkan pengalaman pribadi dan orang – orang sekitarnya yang membantu pembaca dalam memahami maksud dari penulis.
Penulis membuat perbandingan Kristen Bermisi dengan Kristen yang masih memandang dunia dengan caranya sendiri dan berlaku menurut kehendaknya sendiri. Kristen Aman, menggunakan Mata Ketakutan untuk memandang dunia, menggunakan Tangan Bertahan untuk melindungi dari serangan dunia yang mematikan, Kaki Waspada yang cenderung menghindari tempat – tempat ramai dan berisiko.Kristen Sukses menggunakan : Mata Bersemangat, Tangan meraih untuk sibuk mengumpulkan penghargaan, piala, dan pujian, Kaki Ambisius yang bersedia ke tempat – tempat berisiko selama ada keuntungan pribadi yang dapat diraih. Lalu Kristen Gembira menggunakan : Mata Rekreasi melihat hiburan di dunia ini adalah sesuatu yang harus dinikmati, Tangan Mabuk sibuk mencoba rekreasi demi rekreasi, Kaki Meloncat yang membawa mereka ke tempat manapun yang kedengaranya menyenangkan, menjanjikan. Lalu berbicara mengenai dimana mereka menginvestasikan hati dan pikirannya, mereka cenderung berinvestasi pada hal – hal yang sebenarnya cukup umum dan menarik seperti keamanan, kesuksesan, atau kegembiraan. Akan tetapi, hal – hal tersebut hanyalah komoditas yang cepat berlalu dan berujung pada kekecewaan serta kehampaan.
Berbeda dengan Kristen Bermisi yang menggunakan : Mata Sadar yang melihat dunia sedang dalam pembusukkan, dan kegelapan yang teramat sangat; Tangan Hamba yang bersedia membasuh kaki – kaki kotor; Kaki Siap Sedia yang bersedia pergi ke mana pun Allah memanggil kita, Hati yang berbelas Kasih dan melabuhkan hatinya kepada pengharapan yang teguh ( tidak dapat dibongkar dan dicuri oleh pencuri manapun ). Mereka juga berinvestasi pada karya Allah di dunia, dimana investasi tersebut walapun akan menyakitkan, tetapi hasilnya akan terbayar dalam jangka waktu yang panjang.
Menurut saya, penulis menggunakan perbandingan – perbandigan tersebut bukan untuk menjatuhkan atau menjelekkan pihak – pihak tertentu, tetapi untuk membuat siapapun yang membacanya dapat bercermin dan tersadar, dimanakah posisinya saat itu. Sudah selayaknya kita sebagai murid – murid-Nya ikut turut andil dalam karya Allah di dunia ini. Dimana dunia ini mengalami pembusukkan dan membutuhkan garam untuk memperlambat pembusukkan tersebut. Dunia yang gelap ini membutuhkan terang. Semua orang Kisten dipanggil untuk menjadi mitra Allah dala mengerjakan karya-Nya, tidak ada yang hanya sebagai pengamat. Semua itu memang butuh proses, asalkan dilakukan dengan tekun pasti akan berhasil, karena Allah sendiri yang mengutus, Dia juga yang menyertai.



Syaloom teman seperjuangan, teman sejawat dan seiman dalam Kristus. Perkenalkan saya dr. Prasarita Esti Pudyaningrum, biasa dipanggil Tita. Saya angkatan 2009 FK Undip Semarang, sekarang bekerja sebagai dokter fungsional di pemerintah Kota Semarang. Saya mau sedikit sharing tentang pentingnya disiplin atau taat di hal hal dasar. Beberapa waktu yang lalu, saya bertugas Pos Kesehatan Wilayah Kejaksaan Negeri Kota Semarang. Saya kaget ada 5000 orang yang akan disidang karena ditilang. Sebab tilangnya ternyata sederhana saja, seperti tidak memakai helm, tali pengaman helm tidak dikaitkan, tidak memakai sabuk pengaman, terobos lampu merah dan angkat telp saat mengendara. Hal hal sederhana ini ternyata terekam kamera cctv dan dicatat polisi. Hari itu 5000 orang yang menyepelekan hal dasar harus membayar 80.000 dan disidang bergantian. Hal sederhana yang dilanggar tapi membuat repot seharian. Hari itu saya tertegur, saya harus lebih perhatian dengan hal hal dasar.

