Sharing Internsip: Masa Pemahiran, Masa Melangkah dengan Iman

Saat saya mengetik sharing ini, saya telah menyelesaikan tahapan internsip. Karanganyar, sebuah kabupaten yang tidak pernah terlintas di benak saya, menjadi tempat pemahiran selama satu tahun. Semuanya berawal ketika kami, para dokter baru, harus memilih wahana internsip secara online. Saat itu tidak banyak pertimbangan, hanya jarak dan kedekatan dengan sarana transportasi seperti stasiun atau bandara. Sewaktu memilih Solo, koneksi saya gagal dan saya berpikir bahwa wahana di sana habis. Akhirnya saya beralih ke pilihan kedua, Karanganyar, dan berhasil dengan bantuan sahabat saya.

Baca lebih lanjut

Renungan Juni 2006 : Hidup & Waktu

 

“Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu?

Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

(Yakobus 4:14)

photo-clocks-people

Ada ajaran filsafat India kuno tentang waktu dan karma: “Burung hidup memakan semut, tapi ketika burung mati, semât memakannya”. Segala sesuatu bisa berubah setiap saat. Dalam hidup ini janganlah merendahkan dan melukai orang lain. Hari ini mungkin kamu begitu perkasa, tetapi ingatlah bahwa waktu lebih perkasa darimu. Satu batang pohon dapat dijadikan jutaan batang korek api, tapi hanya dibutuhkan satu batang korek api untuk membakar dan menghanguskan jutaan pohon.”

Baca lebih lanjut

Pokok Doa Alumni Bulan Mei 2016

  1. Hubungan pribadi alumni dengan Tuhan supaya tetap terjaga di tengah kesibukan masing-masing
  2. Pekerjaan para alumni di manapun berada supaya bisa menjadi berkat, diberikan hikmat, kesabaran, dan sukacita dalam menghadapi berbagai macam pasien
  3. Dokter yang melayani di daerah terpencil agar diberikan kesehatan, dilindungi selalu
  4. Dokter yang sedang PPDS, agar diberikan anugerah dalam menyelesaikan studi agar lancar dan tepat waktu
  5. Untuk kehidupan rumah tangga alumni supaya tetap harmonis dalam Tuhan, dan bagi yang masih bergumul pasangan hidup supaya Tuhan pertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat
  6. Bersyukur untuk dokter-dokter baru angkatan 2009 yang sudah mendapatkan wahana internsip, semoga dapat menjadi terang dan garam di manapun berada, dan diberi kesehatan selalu
  7. Rencana acara gathering alumni tanggal 5 Juni 2016, supaya acara berjalan lancar dan banyak masyarakat diberkati lewat acara ini
  8. Dokter-dokter angkatan 2008 yang akan selesai internsip, supaya Tuhan beri hikmat untuk menetapkan langkah selanjutnya

Teralihkan

Gadgetku, harus kuakui, sangatlah keren. Semuanya canggih dan fiturnya lengkap. Tetapi ada suatu hal yang kusadari, yang tidak begitu keren: menjadi lebih terkesima dengan barang-barangku daripada kepada Tuhan.

Ini menjadi masalah, bukan menurutku, tetapi menurut Yesus dalam firmanNya di Matius 11 ayat 28.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Saat Tuhan berkata bahwa dapat beristirahat di dalamnya, itulah firmanNya. Berarti, kelegaan yang sejati tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Baru-baru ini aku mendengar seorang pendeta di Maryland berkhotbah tentang bedanya istirahat dengan rekreasi. Kita lebih banyak berekreasi daripada betul-betul beristirahat, dan ketika kita berekreasi, seringkali justru kita tidak beristirahat. Contohnya:
Tahun lalu kami sekeluarga pergi ke Disney World untuk rekreasi selama seminggu, dan sepulangnya dari sana aku merasa lebih lelah daripada saat berangkat.
Mungkin aku sudah menyingkir dari berbagai stresor kehidupan, tapi apakah aku sudah sungguh-sungguh beristirahat? Inilah yang Tuhan tunjukkan, bahwa istirahat sesungguhnya berkaitan erat dengan keadaan jiwa kita.

Kita tahu bahwa irama jantung yang baik sangatlah penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Detak jantung yang stabil sangat perlu, kan? Tapi yang lambat kita sadari adalah, jiwa kita pun membutuhkan ritme.
“Kita semua sadar bahwa ritme yang reguler itu penting untuk kesehatan,” ujar Dr. Christine Sine. “Kita juga tahu, bila detak jantung kita ireguler, kita harus memeriksakan diri ke dokter. Namun, kita sering lupa soal ritme spiritual yang sama pentingnya dengan irama fisik dan sama krusialnya untuk kesehatan. Jika hidup kita makin tak terhubung dengan irama firman Tuhan, makin kita tidak mendengar suara hati Tuhan yang bermaksud menolong kita, dan kita jadi tidak sadar dengan gejala-gejala yang seharusnya mengingatkan kita akan kesalahan dan dosa kita.”

Jadi waktu Tuhan berkata, “marilah kepadaKu, Aku akan memberi kelegaan padamu,” kita tak menanggapinya.

Tuhan mencoba lagi, “letakkanlah bebanmu, anakKu. Berjalanlah denganku dan langkahmu akan ringan,” lagi-lagi kita tidak menjawab.

Lalu kata Tuhan: “Aku ingin kau terpesona olehKu, bukan oleh pernak-pernik dunia.” Masih juga kita tak merespon.

Masih sabar dan menanti, untuk keempat kalinya, “Tenang dan lihatlah ke sini. Bersandarlah kepadaku.”

Kita seperti mendengar sesuatu. Tunggu dulu. Apa itu suara Tuhan? Kita melirik ke langit dan berkata, “Hmm, Tuhan? Kaukah itu? Apa itu ‘bersandar’?”

Belum lagi Tuhan sempat menjawab, kita dengar bunyi notifikasi dari ponsel kita, sebuah chat meminta dibuka. Dan begitulah, sulit untuk tidak menggerakkan ibu jari kita di atas layar sentuh.

1-0 buat si jahat.

Marilah kita mendengar detak jantung Tuhan. Bagaimana caranya?
Dengan berdiam dan tenang. Berhenti melakukan apapun. Dengan demikian, kita dapat mengundang Yesus ke tempat rahasia kita, dan bukan ke gudang masalah kita.

Tuhan memberkati.

Disadur dengan tambahan, dari Addicted To Busy: Recovery For The Rushed Soul:
http://bible.com/r/1934