Facing Your Giants

“Pusatkan perhatian pada raksasa–Anda akan tersandung. Pusatkan perhatian pada Allah–Raksasa akan tumbang,” begitu bunyi kutipan di belakang sampul buku ini menggelitik batinku. “Hmm.. raksasa?”, aku bertanya dalam hati. Sedetik kemudian memori sekolah minggu menyeruak. Aha! Rupanya kisah si anak muda dan raksasa, Daud dan Goliat. Bila sejak kecil kamu sudah sangat akrab dengan kisah yang dicatat Alkitab ini, mungkin respons awalmu sama sepertiku. Jangan-jangan buku ini membosankan, hanya mengulang cerita lama. Tetapiiii… setelah dibaca, ternyata bukunya sangat menarik. Penulis kondang Max Lucado mengajak kita merenungkan kebenaran-kebenaran penting dalam cerita lawas ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan masa kini.

 

Raksasa zaman sekarang, menurut Max, bukanlah Goliat kasat mata berbadan besar. Raksasa zaman ini tak kasat mata. Kita tidak tahu berapa tinggi badannya, berapa berat tubuhnya, dan apa makanan kesukaannya. Tetapi, kita mengenal Goliat kita masing-masing. Kita mengenali derap langkahnya dan gelegar suaranya. Ia mendatangi kita dengan hari-hari murung, permusuhan, penolakan, kepedihan yang tak terkatakan, harapan yang kandas, tagihan yang tidak dapat dibayar, orang-orang yang tidak dapat disenangkan, kebiasaan buruk yang tidak dapat ditinggalkan, kesalahan yang tidak dapat dilupakan, dan masa depan yang tidak dapat dihadapi. Raksasa itu menghantui pikiran, cara pandang, dan bahkan fokus hidup kita. Namun, sebagaimana Daud mampu menghadapi Goliat ketika Allah menyertainya, demikian pula kita akan mampu menghadapi raksasa dalam hidup kita bersama Allah.

 

Wait..! Tapi kita kan beda sama Daud. Bukankah Daud itu raja yang berkuasa, kaya raya, pintar, beriman teguh, dan bahkan disebut Allah sendiri sebagai orang yang berkenan di hati-Nya? Hmm… saat melawan Goliat sih Daud hanyalah seorang gembala muda dari desa yang penampilannya sama sekali tidak meyakinkan sebagai seorang penakluk raksasa. Bahkan setelah meraih tampuk kekuasaan pun, Daud bukanlah sosok tanpa cacat cela. Seperti yang dijelaskan oleh Max, ”Daud terjatuh sesering ia berdiri, tersandung sesering ia berhasil menaklukkan lawan. Ia menghunjamkan pandang pada Goliat, namun bermain mata dengan Batsyeba. Ia melawan pencemooh-pencemooh Allah di lembah, namun bergabung dengan mereka di padang belantara. Satu ketika ia pramuka teladan, lain kali ia bergaul akrab dengan mafia. Ia dapat memimpin bala tentara tetapi tidak dapat mengurus keluarganya. Daud yang mengamuk. Daud yang menangis. Daud yang haus darah. Yang mencari Tuhan. Delapan istri. Satu Allah.”

 

See? Daud bukanlah manusia sempurna. Ia sama seperti kita semua. Ia hanya manusia biasa. Allah menyebut Daud sebagai orang yang berkenan di hati-Nya bukan karena hidupnya lurus mulus, namun karena hampir dalam segala kondisi, ketika ia bingung, ditantang, dan takut, Daud selalu mencari Allah dan bergantung pada-Nya.

 

Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan: mau melarikan diri atau menghadapi raksasa-raksasa dalam hidup kita? Jika kita ingin belajar menghadapi raksasa, ini salah satu buku yang akan menginspirasi kita. Dengan gaya khasnya, Max Lucado menguraikan prinsip-prinsip alkitabiah dengan kalimat-kalimat yang berirama, sehingga isi buku ini tak hanya mudah dipahami, tetapi juga enak dinikmati. Buku ini disertai pula dengan pedoman studi agar kita bisa merenungkan setiap prinsip yang dikupas lebih dalam, baik secara pribadi maupun bersama keluarga dan sahabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s