Year: 2016
Warta PJS Jumat, 16 September 2016
Warta PMKK
PJS – 16 Septwmber 2016 – Balanced
Visi PMKK :
Dokter Kristen yang memiliki Integritas, Profesionalisme, serta Pengabdian yang tinggi dengan motivasi yang benar dalam mewujudkan Misi Allah bagi dunia
Misi PMKK :
Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan, Pengutusan
Clara Vica Rudangta Tarigan
Phone : 0813 5036 6509 / Email : claratariigan@gmail.com
Rekening PMKK Bank Mandiri a.n Prasarita 1350007348178
Facebook: Line@:PMKK Undip / Instagram: pmkkundip / Web: pmkkundip.org
Where Would I Be Without My Mountains?
Where Would I Be Without My Mountains?
Mary Southerland
Today’s Truth
I lift up my eyes to the mountains—where does my help come from? My help comes from the Lord, the Maker of heaven and earth (Psalm 121:1-2, NIV).
Sharing Internsip : “Tuhan menginginkan kita untuk menjadi kepala, bukan ekor “(dr.Ado)
Dari awal pemilihan wahana internsip, sebenarnya saya termasuk orang yang tidak begitu “excited” dengan adanya pemilihan wahana online. Saya merasa seperti, “yaudahlah, mau dimana aja ya gapapa, yang penting setahun ini cepat berlalu, saya masih ingin banyak mencari hal yang lain diluar sana, saya ga ingin terlalu masuk dalam kehidupan internsip, saya..dan saya dll” yang selalu terngiang-ngiang dalam diri saya. Saya merasa internsip hanya buang-buang waktu dan hal lain yang padahal kalau tidak ada internsip ini bisa saya gunakan untuk mengejar hal dan cita-cita saya yang lain. Dari seorang almamater fakultas kedokteran yang dituntut 6 tahun kuliah dan kepaniteraan klinik, ditambah waktu menunggu keberangkatan internsip yang tidak jelas, dan harus mengikuti “pengabdian” selama 1 tahun yang katanya digunakan untuk pematangan kompetensi sebagai dokter, tentu saja dalam hati, saya merasa jenuh, dan merasa tidak adil karena diharuskan menempuh waktu yang lebih lama dari almamater fakultas kedokteran lain. Karena itu juga saya menganggap internsip hanya “buang-buang waktu” belaka.
Singkat cerita, di malam hari sebelum pemilihan, tidak seperti teman-teman yang lain yang memilih tempat dengan koneksi wifi atau internet yang cepat di hotel atau tempat-tempat lain, saya memilih untuk pulang ke rumah saya di Sragen, yang tentu saja dengan koneksi internet yang ala kadarnya. Ya karena hal itu, “saya ga semangat”, untuk mengikuti pemilihan wahana internsip. Di malam hari, setelah berkonsultasi dengan ayah saya, saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen, yaitu di RSUD Gemolong dan PKM Karangmalang, yang dekat dengan rumah orangtua saya. Pilihan kedua, saya menjatuhkan pilihan pada RS Roemani Semarang. Pagi hari saya bangun, segera menyiapkan untuk melakukan pilihan, dengan tempat masih di kasur dan kondisi mengantuk, saya mencoba untuk masuk ke halaman awal Pemilihan Wahana. Seperti yang saya sudah duga di awal, pasti bakal terjadi “server down” dikarenakan belum siapnya dari pihak penyelenggara dan jumlah orang (peserta) yang berebut masuk ke online. Alhasil, saya baru bisa masuk pukul 12.30 dengan wahana Semarang sudah tidak tersedia. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen. Anehnya, di waktu akan memilih, saya merasa sangat pusing, dan tiba-tiba saya menggerakkan kursor mouse entah kemana saya tidak tahu dan memencetnya. Yang saya pilih ternyata adalah wahana Boyolali, yaitu RSUD Banyudono dan PKM Banyudono 1. Saya hanya terdiam dan berpikir, “yaudahlah.., mau dimana aja kan sama aja”.
Sharing Internsip : “Tuhan selalu tepatkan” (dr.Ericko)
Internsip sebagai … ???
Halo, semua. Perkenalkan saya Ericko Hartanto Laymena, PMKK 2008. Ketika saya diminta sharing mengenai internsip sebenarnya banyak yang bias disharingkan dari internsip yang saya alami. Dari pergumulan dalam diri, pergumulan interpersonal, hingga pergumulan yang lebih luas dengan masyarakat atau bangsa dan negara.
Saya mengangkat topic “internsip sebagai …???”. Mengapa saya memilih topic ini? Saya memilih topic ini karena kita bias memaknai internsip sebagai apapun. Internsip sebagai waktu pemahiran, seagi waktu pemantapan, sebagai pelatihan skill, sebagai penjalinan relasi internal maupun external, dsb. Hal yang saya sebt tadi adalah sudut pandang dari kacamata dokter secara umum. Namun bisa kita pandang dari sisi lain. Internsip sebagai komunitas untuk membangun diri kita, untuk mambangun komunitas itu sendiri, untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara. Hal yang saya sebut terakhir ini tampak seperti bualan saja ya. Ya saya berpikir awalnya memang bualan. Namun simak artikel ini, mebawa berkat atau tidak tergantung bagaimana kita memaknainya.

