Renungan Juni 2006 : Hidup & Waktu

 

“Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu?

Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

(Yakobus 4:14)

photo-clocks-people

Ada ajaran filsafat India kuno tentang waktu dan karma: “Burung hidup memakan semut, tapi ketika burung mati, semât memakannya”. Segala sesuatu bisa berubah setiap saat. Dalam hidup ini janganlah merendahkan dan melukai orang lain. Hari ini mungkin kamu begitu perkasa, tetapi ingatlah bahwa waktu lebih perkasa darimu. Satu batang pohon dapat dijadikan jutaan batang korek api, tapi hanya dibutuhkan satu batang korek api untuk membakar dan menghanguskan jutaan pohon.”

Baca lebih lanjut

Teralihkan

Gadgetku, harus kuakui, sangatlah keren. Semuanya canggih dan fiturnya lengkap. Tetapi ada suatu hal yang kusadari, yang tidak begitu keren: menjadi lebih terkesima dengan barang-barangku daripada kepada Tuhan.

Ini menjadi masalah, bukan menurutku, tetapi menurut Yesus dalam firmanNya di Matius 11 ayat 28.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Saat Tuhan berkata bahwa dapat beristirahat di dalamnya, itulah firmanNya. Berarti, kelegaan yang sejati tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Baru-baru ini aku mendengar seorang pendeta di Maryland berkhotbah tentang bedanya istirahat dengan rekreasi. Kita lebih banyak berekreasi daripada betul-betul beristirahat, dan ketika kita berekreasi, seringkali justru kita tidak beristirahat. Contohnya:
Tahun lalu kami sekeluarga pergi ke Disney World untuk rekreasi selama seminggu, dan sepulangnya dari sana aku merasa lebih lelah daripada saat berangkat.
Mungkin aku sudah menyingkir dari berbagai stresor kehidupan, tapi apakah aku sudah sungguh-sungguh beristirahat? Inilah yang Tuhan tunjukkan, bahwa istirahat sesungguhnya berkaitan erat dengan keadaan jiwa kita.

Kita tahu bahwa irama jantung yang baik sangatlah penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Detak jantung yang stabil sangat perlu, kan? Tapi yang lambat kita sadari adalah, jiwa kita pun membutuhkan ritme.
“Kita semua sadar bahwa ritme yang reguler itu penting untuk kesehatan,” ujar Dr. Christine Sine. “Kita juga tahu, bila detak jantung kita ireguler, kita harus memeriksakan diri ke dokter. Namun, kita sering lupa soal ritme spiritual yang sama pentingnya dengan irama fisik dan sama krusialnya untuk kesehatan. Jika hidup kita makin tak terhubung dengan irama firman Tuhan, makin kita tidak mendengar suara hati Tuhan yang bermaksud menolong kita, dan kita jadi tidak sadar dengan gejala-gejala yang seharusnya mengingatkan kita akan kesalahan dan dosa kita.”

Jadi waktu Tuhan berkata, “marilah kepadaKu, Aku akan memberi kelegaan padamu,” kita tak menanggapinya.

Tuhan mencoba lagi, “letakkanlah bebanmu, anakKu. Berjalanlah denganku dan langkahmu akan ringan,” lagi-lagi kita tidak menjawab.

Lalu kata Tuhan: “Aku ingin kau terpesona olehKu, bukan oleh pernak-pernik dunia.” Masih juga kita tak merespon.

Masih sabar dan menanti, untuk keempat kalinya, “Tenang dan lihatlah ke sini. Bersandarlah kepadaku.”

Kita seperti mendengar sesuatu. Tunggu dulu. Apa itu suara Tuhan? Kita melirik ke langit dan berkata, “Hmm, Tuhan? Kaukah itu? Apa itu ‘bersandar’?”

Belum lagi Tuhan sempat menjawab, kita dengar bunyi notifikasi dari ponsel kita, sebuah chat meminta dibuka. Dan begitulah, sulit untuk tidak menggerakkan ibu jari kita di atas layar sentuh.

1-0 buat si jahat.

Marilah kita mendengar detak jantung Tuhan. Bagaimana caranya?
Dengan berdiam dan tenang. Berhenti melakukan apapun. Dengan demikian, kita dapat mengundang Yesus ke tempat rahasia kita, dan bukan ke gudang masalah kita.

Tuhan memberkati.

Disadur dengan tambahan, dari Addicted To Busy: Recovery For The Rushed Soul:
http://bible.com/r/1934

 

Sharing Internsip Alumni: Nikmati Perjalanan dengan Tuhan

Shallom. Saya Inneke Elysia Lavender, PMKK UNDIP angkatan 2008 lulus tahun 2014. Setelah lulus menjadi dokter Oktober 2014 lalu, mengikuti aturan yang ada saya wajib menjalani program internsip. Berharap ingin segera “bebas” saya mencoba mendaftar program tersebut secepatnya. Bulan November 2014 terlewati tanpa bisa mendaftar karena syarat-syarat berupa STR, Sertifikat Kompetensi belum keluar. Bulan Februari 2015, saya bersama saudara KTB saya, Naomi Ditya Sari mencoba mendaftar. Saya sengaja pergi ke Pati, ke rumah Naomi agar bisa login bersamaan, berharap bisa dapat wahana yang sama. Tapi bukan itu rencana Tuhan, Naomi berhasil login 10 menit awal dan berhasil masuk wahana di kabupaten Cirebon. Sedangkan saya baru bisa login 20 menit kemudian, pilihan yang tersisa hanya luar jawa, tidak diijinkan orangtua, akhirnya saya harus menunggu 3 bulan lagi. Baca lebih lanjut

Sharing Internsip Alumni: Tuhan Perencana yang Terbaik

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Syalom kakak-kakak dan adik-adik semua, saya dr. Fransiska atau lebih sering dipanggil dr. Ncis, saya dari PMKK angkatan 2008, dan di sini saya rindu untuk berbagi sedikit pengalaman saya waktu internsip.
Jika seringkali kita mendengar orang berkata bahwa Tuhan Yesus itu selalu memiliki rencana yang indah dan terbaik bagi anak-anakNya, atau jika kita sering membaca ayat yang saya dapatkan di atas, maka itu benar adanya. Itulah sebenarnya secara garis besar yang saya alami dengan Tuhan ketika sedang internsip.
Jujur kita manusia bahkan saya sendiri pun waktu di awal mau memilih tidak ada bayangan mau internsip dimana, di awal justru ingin internsip di luar Jawa saja dengan alasan ingin jalan-jalan dan tanpa berpikir panjang untuk membawa di dalam doa. Namun saya ingat ketika beberapa bulan sebelumnya saya sempat ikut membantu di sebuah retreat pengurus PMKK dan di situlah awal Tuhan menegur saya. Untuk apakah saya internsip? Untuk kesenangan saya sendiri? Atau lewat situ saya bisa menjadi berkat? Lalu di mana saya harus melayani?  Baca lebih lanjut

Sharing Internsip Alumni: Allah Turut Bekerja

Syalom,

Saya Tika PMKK 08. Pada kesempatan ini saya ingin sharing sedikit tentang program internsip yang sedang saya jalani. Tak terasa satu tahun internsip sudah hampir selesai. Kini tinggal hitungan hari sampai akhirnya saya terjun ke masyarakat dengan tanggung jawab penuh. Terkadang masih teringat bagaimana dulu saya menyiapkan dan mencari informasi ke daerah yang saya prioritaskan untuk menjadi pilihan internsip selama satu tahun. Segala persiapan saya susun supaya bisa mendapatkan tempat pilihan saya. Hingga saat hari H saya diingatkan bahwa memang manusia bisa berencana tetapi Tuhan lah yang menentukan. Baca lebih lanjut