Persekutuan Doa Coass : “Jesus,MD.”

Syalom PMKK-ers 😀

Belum pernah denger cerita dari para coass PMKK kann? Nah, kali ini aku (coass baru) mau sharing tentang persekutuan doa (PD) coass yang baru pertama kali diadakan hari Sabtu, 12 November 2016 lalu. PD coass kemarin mengangkat tema “Jesus, MD” sekalian welcoming party buat PMKK angkatan 2013 yang akan masuk dunia comuda dan coass.

Kenapa sih tema yang pertama dibahas tuh Jesus, MD?

Jadi Tuhan Yesus tuh ga hanya sebagai guru dan mengajar orang banyak, tetapi Tuhan Yesus tuh ternyata berperan sebagai dokter juga loh”

Salah satunya dalam Yohanes 9 saat Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Kita mungkin pernah bertanya-tanya “Kenapa sih harus ada sakit? Apakah seseorang sakit karena dosa-dosanya atau orang tuanya?”

Jawab Yesus : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3)

Ternyata jawabannya sesederhana itu. Jawaban Tuhan Yesus bisa menjadi penghiburan bagi pasien-pasien yang kita temui, pasien-pasien yang mungkin sudah putus asa dan kehilangan harapan. Tetapi juga jadi motivasi buat kita menjadi seorang calon dokter yang lebih baik, itu karena kita pun akan dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah.

Sebagai coass baru, mungkin aku belum merasakan stressor yang berat, kesibukan coass yang sering dikeluhkan oleh kakak-kakak. Tetapi lewat PD kemarin aku diingetin kalau ga mungkin kita bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah tanpa memiliki hubungan pribadi dengan-Nya. Ga mungkin kita bisa taat sama proses atau menghasilkan buah kalau kita ga melekat sama sumber-Nya. Buah-buah kesabaran dan pengendalian diri ga bakal keluar kalau kita jauh dari pohon-Nya. So, kalau mungkin sekarang rasanya hari-hari kita lebih banyak diisi dengan mengeluh dan kekesalan di hati, tau kan apa yang kurang? :p

Menurutku penting banget loh buat bersosialisasi apalagi bersekutu. Saat udah ga bisa ikut PJS, ketemu teman-teman PMKK mulai jarang, PD coass ini jadi salah satu atau mungkin satu-satunya kesempatan buat kita. Memang akan terasa sulit untuk menjalani kehidupan coass dan melakukan pekerjaan Allah kalau kita menjalaninya sendiri. Tetapi saat kita menoleh ke kiri-kanan dan melihat teman-teman yang sama-sama berjuang, bukankah suntikan semangat (onset cepat, tapi long acting) akan terus kita rasakan? 😀

Yuk, jangan jadikan PD coass sebagai beban atau sebuah jadwal yang cuman menuh-menuhin agenda kita. Tetapi jadikan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan bersekutu, kesempatan yang selalu kita nantikan.

Semangat para dokter muda FK Undip, let’s walk together! You’re not alone, God with us 🙂

Sharing Internsip : “Tuhan menginginkan kita untuk menjadi kepala, bukan ekor “(dr.Ado)

Dari awal pemilihan wahana internsip, sebenarnya saya termasuk orang yang tidak begitu “excited” dengan adanya pemilihan wahana online. Saya merasa seperti, “yaudahlah, mau dimana aja ya gapapa, yang penting setahun ini cepat berlalu, saya masih ingin banyak mencari hal yang lain diluar sana, saya ga ingin terlalu masuk dalam kehidupan internsip, saya..dan saya dll” yang selalu terngiang-ngiang dalam diri saya. Saya merasa internsip hanya buang-buang waktu dan hal lain yang padahal kalau tidak ada internsip ini bisa saya gunakan untuk mengejar hal dan cita-cita saya yang lain. Dari seorang almamater fakultas kedokteran yang dituntut 6 tahun kuliah dan kepaniteraan klinik, ditambah waktu menunggu keberangkatan internsip yang tidak jelas, dan harus mengikuti “pengabdian” selama 1 tahun yang katanya digunakan untuk pematangan kompetensi sebagai dokter, tentu saja dalam hati, saya merasa jenuh, dan merasa tidak adil karena diharuskan menempuh waktu yang lebih lama dari almamater fakultas kedokteran lain. Karena itu juga saya menganggap internsip hanya “buang-buang waktu” belaka.

Singkat cerita, di malam hari sebelum pemilihan, tidak seperti teman-teman yang lain yang memilih tempat dengan koneksi wifi atau internet yang cepat di hotel atau tempat-tempat lain, saya memilih untuk pulang ke rumah saya di Sragen, yang tentu saja dengan koneksi internet yang ala kadarnya. Ya karena hal itu, “saya ga semangat”, untuk mengikuti pemilihan wahana internsip. Di malam hari, setelah berkonsultasi dengan ayah saya, saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen, yaitu di RSUD Gemolong dan PKM Karangmalang, yang dekat dengan rumah orangtua saya. Pilihan kedua, saya menjatuhkan pilihan pada RS Roemani Semarang. Pagi hari saya bangun, segera menyiapkan untuk melakukan pilihan, dengan tempat masih di kasur dan kondisi mengantuk, saya mencoba untuk masuk ke halaman awal Pemilihan Wahana. Seperti yang saya sudah duga di awal, pasti bakal terjadi “server down” dikarenakan belum siapnya dari pihak penyelenggara dan jumlah orang (peserta) yang berebut masuk ke online. Alhasil, saya baru bisa masuk pukul 12.30 dengan wahana Semarang sudah tidak tersedia. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen. Anehnya, di waktu akan memilih, saya merasa sangat pusing, dan tiba-tiba saya menggerakkan kursor mouse entah kemana saya tidak tahu dan memencetnya. Yang saya pilih ternyata adalah wahana Boyolali, yaitu RSUD Banyudono dan PKM Banyudono 1. Saya hanya terdiam dan berpikir, “yaudahlah.., mau dimana aja kan sama aja”.

Baca lebih lanjut

Sharing Internsip : “Tuhan selalu tepatkan” (dr.Ericko)

 

Internsip sebagai … ???

Halo, semua. Perkenalkan saya Ericko Hartanto Laymena, PMKK 2008. Ketika saya diminta sharing mengenai internsip sebenarnya banyak yang bias disharingkan dari internsip yang saya alami. Dari pergumulan dalam diri, pergumulan interpersonal, hingga pergumulan yang lebih luas dengan masyarakat atau bangsa dan negara.

Saya mengangkat topic “internsip sebagai …???”. Mengapa saya memilih topic ini? Saya memilih topic ini karena kita bias memaknai internsip sebagai apapun. Internsip sebagai waktu pemahiran, seagi waktu pemantapan, sebagai pelatihan skill, sebagai penjalinan relasi internal maupun external, dsb. Hal yang saya sebt tadi adalah sudut pandang dari kacamata dokter secara umum. Namun bisa kita pandang dari sisi lain. Internsip sebagai komunitas untuk membangun diri kita, untuk mambangun komunitas itu sendiri, untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara. Hal yang saya sebut terakhir ini tampak seperti bualan saja ya. Ya saya berpikir awalnya memang bualan. Namun simak artikel ini, mebawa berkat atau tidak tergantung bagaimana kita memaknainya.

Baca lebih lanjut

“Shine Your Light” Gathering PMKK Alumni, Pengobatan Massal, dan Pasar Murah

Gathering PMKK Alumni yang ke 2, adalah sebuah kegiatan yang diadakan oleh PMKK Alumni setiap tahunnya, untuk menjalin tali persaudaraan di antara para Alumni PMKK, bisa bersama-sama terus menjadi berkat untuk sekitar, dan terus diingatkan kembali bagaimana kita harus menjadi seorang dokter Kristen yang membawa terang bagi dunia. Gathering Alumni kali ini dilaksanakan tanggal 5 Juni 2016, di Camp Efrata, Ungaran mengambil tema “Shine Your Light” di mana pengurus rindu supaya setiap Alumni PMKK dapat diingatkan kembali bahwa kita ada di dunia ini, di utus Tuhan untuk selalu menjadi terang dan bukan menjadi sama seperti dunia ini.

Di dalam acara gathering kali ini, ada beberapa acara di dalamnya, ada ibadah, melalui firmanNya kita diingatkan bahwa hidup kita ini seperti lampu, tetapi janganlah menjadi lampu yang mati, tetapi jadilah lampu yang terus mentala.“Kita perlu memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan yang kuat sehingga kita dapat terus besinar. Ingat bahwa terang yang kita miliki dapat menyelamatkan yang terhilang, dapat memberikan inspirasi bagi orang lain, dapat menyalurkan kasih Allah, dan dapat mengubah orang lain, kemudian di lanjutkan dengan acara gathering itu sendiri, di sinilah para Alumni PMKK bisa saling sharing dan mengenal satu sama lain, dan acara yang terakhir adalah Aksi Sosial PMKK Alumni bersama dengan adik-adik PMKK.

IMG_2140

Aksi Sosial ini diadakan di DesaKeji, Ungaran Barat,  tepatnya di Balai Desa tempat kita melaksanakan acara gathering tersebut. Kita rindu tidak hanya bisa menjalin tali persaudaraan tetapi juga boleh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar. Aksi Sosial ini dibagi dalam beberapa kegiatan seperti pengobatan massal, penyuluhan kesehatan, pasar murah, khitanan massal, dan home visit. Selain dapat menjadi berkat, para Alumni PMKK juga melatih adik-adik PMKK untuk belajar dan melayani bersama-sama. Warga desa pun sangat antusias dalam mengikuti kegiatan Aksi Sosial ini.

Untuk ke depannya harapan dari kami Pengurus PMKK Alumni, supaya kegiatan ini bisa terus di adakan di tahun depan. Mungkin lebih baik jika kegiatan tersebut bisa di bagi dalam hari-hari yang berbeda sehingga para Alumni bisa lebih lama bertemu, bisa lebih banyak berbagi sharing dan pengalaman serta tentunya bisa terus menjadi berkat.

Maju terus PMKK Alumni! Tuhan memberkati 🙂

IMG_2137