Kepengurusan PMKK Baru – Sharing Clara Tarigan

Halo semuanyaaa 😀 Saya Clara Vica R. Tarigan, ketua PMKK dari PMKK angkatan 2014. Mau sharing nih tentang kegiatan Gathering Pengurus PMKK yang udah dilaksanakan 22-23 Juli 2016 di Vila Bandungan.

pengurus-pmkk

Jadi Gathering Pengurus adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap 1x per semester. Nah tujuan dari gathering ini adalah “menyegarkan” kembali semangat melayani pengurus dan juga mempererat relasi sesama pengurus dan tentunya mengambil waktu pribadi bersama Tuhan 😀 Biasanya juga digunakan sekalian untuk rapat evaluasi akhir semester. Khusus semester ini ditambah juga agenda untuk regenerasi kepengurusan PMKK. Nah acaranya apa aja yaa ? Acaranya dibuka dengan rapat evaluasi akhir semester, lalu dilanjutkan dengan sesi 1 oleh kakak kita, dr. Tita angkatan 2009. Terus lanjut makan malam dan pesta BBQ :9 Lalu besok paginya ada Morning Devotion dari kakak kita juga, dr. Fransiska (kak Ncis) angkatan 2008. Selanjutnya ada games dan olahraga pagi juga yang seru abis hahaha 😀 Lalu setelah mandi dan sarapan, lanjut sesi 2 oleh Ko Adrian yang kemudian ditutup dengan ibadah Pengutusan.

gathering-pengurus-2
Pengurus PMKK periode 2016-2017

Baca lebih lanjut

Hidup dalam Kasih terhadap Sesama

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39).

Ketika kita baca dalam ayat yang ke 39, dikatakan “hukum yang sama dengan itu” kata SAMA setara dengan mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Tuhan Yesus menghendaki kita semua untuk mengasihiNya dan bukti kita mengasihiNya adalah dengan mengasihi sesama kita. Mengasihi sesama kita manusia seperti mengasihi diri kita sendiri.

“Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” (1 Yoh 2:9-11).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”

(1 Yoh 4:7,11-12).

Hidup dalam kasih terhadap Tuhan dan sesama merupakan tanda kita ini seorang anak Tuhan. Mengapa Tuhan tidak menghendaki kita sebagai anak-anakNya tidak hidup dalam kepahitan maupun dendam? Baca lebih lanjut

Sharing Internsip : “Tuhan menginginkan kita untuk menjadi kepala, bukan ekor “(dr.Ado)

Dari awal pemilihan wahana internsip, sebenarnya saya termasuk orang yang tidak begitu “excited” dengan adanya pemilihan wahana online. Saya merasa seperti, “yaudahlah, mau dimana aja ya gapapa, yang penting setahun ini cepat berlalu, saya masih ingin banyak mencari hal yang lain diluar sana, saya ga ingin terlalu masuk dalam kehidupan internsip, saya..dan saya dll” yang selalu terngiang-ngiang dalam diri saya. Saya merasa internsip hanya buang-buang waktu dan hal lain yang padahal kalau tidak ada internsip ini bisa saya gunakan untuk mengejar hal dan cita-cita saya yang lain. Dari seorang almamater fakultas kedokteran yang dituntut 6 tahun kuliah dan kepaniteraan klinik, ditambah waktu menunggu keberangkatan internsip yang tidak jelas, dan harus mengikuti “pengabdian” selama 1 tahun yang katanya digunakan untuk pematangan kompetensi sebagai dokter, tentu saja dalam hati, saya merasa jenuh, dan merasa tidak adil karena diharuskan menempuh waktu yang lebih lama dari almamater fakultas kedokteran lain. Karena itu juga saya menganggap internsip hanya “buang-buang waktu” belaka.

Singkat cerita, di malam hari sebelum pemilihan, tidak seperti teman-teman yang lain yang memilih tempat dengan koneksi wifi atau internet yang cepat di hotel atau tempat-tempat lain, saya memilih untuk pulang ke rumah saya di Sragen, yang tentu saja dengan koneksi internet yang ala kadarnya. Ya karena hal itu, “saya ga semangat”, untuk mengikuti pemilihan wahana internsip. Di malam hari, setelah berkonsultasi dengan ayah saya, saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen, yaitu di RSUD Gemolong dan PKM Karangmalang, yang dekat dengan rumah orangtua saya. Pilihan kedua, saya menjatuhkan pilihan pada RS Roemani Semarang. Pagi hari saya bangun, segera menyiapkan untuk melakukan pilihan, dengan tempat masih di kasur dan kondisi mengantuk, saya mencoba untuk masuk ke halaman awal Pemilihan Wahana. Seperti yang saya sudah duga di awal, pasti bakal terjadi “server down” dikarenakan belum siapnya dari pihak penyelenggara dan jumlah orang (peserta) yang berebut masuk ke online. Alhasil, saya baru bisa masuk pukul 12.30 dengan wahana Semarang sudah tidak tersedia. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih wahana Sragen. Anehnya, di waktu akan memilih, saya merasa sangat pusing, dan tiba-tiba saya menggerakkan kursor mouse entah kemana saya tidak tahu dan memencetnya. Yang saya pilih ternyata adalah wahana Boyolali, yaitu RSUD Banyudono dan PKM Banyudono 1. Saya hanya terdiam dan berpikir, “yaudahlah.., mau dimana aja kan sama aja”.

Baca lebih lanjut

Sharing Internsip : “Tuhan selalu tepatkan” (dr.Ericko)

 

Internsip sebagai … ???

Halo, semua. Perkenalkan saya Ericko Hartanto Laymena, PMKK 2008. Ketika saya diminta sharing mengenai internsip sebenarnya banyak yang bias disharingkan dari internsip yang saya alami. Dari pergumulan dalam diri, pergumulan interpersonal, hingga pergumulan yang lebih luas dengan masyarakat atau bangsa dan negara.

Saya mengangkat topic “internsip sebagai …???”. Mengapa saya memilih topic ini? Saya memilih topic ini karena kita bias memaknai internsip sebagai apapun. Internsip sebagai waktu pemahiran, seagi waktu pemantapan, sebagai pelatihan skill, sebagai penjalinan relasi internal maupun external, dsb. Hal yang saya sebt tadi adalah sudut pandang dari kacamata dokter secara umum. Namun bisa kita pandang dari sisi lain. Internsip sebagai komunitas untuk membangun diri kita, untuk mambangun komunitas itu sendiri, untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara. Hal yang saya sebut terakhir ini tampak seperti bualan saja ya. Ya saya berpikir awalnya memang bualan. Namun simak artikel ini, mebawa berkat atau tidak tergantung bagaimana kita memaknainya.

Baca lebih lanjut