Medical Mission Course X Serukam – Part 8

Ketika sampai di Siding, kami disambut oleh anak-anak kecil yang sedang bermain di sekitar sungai. Para warga juga membantu kami mengangkat barang dari sampan hingga ke gereja tempat kami tinggal, dan ada satu suka cita yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kami telah diberitahukan sebelumnya bahwa di Siding pada umumnya sangat sulit untuk mendapatkan sinyal telepon, serta tidak ada listrik sama sekali.

Bagi kami ini berbeda dengan pengalaman sebelumnya ke Nanga Baram, karena kami butuh berkomunikasi dengan teman kami yang mendaftarkan wahana internsip untuk dua orang lainnya yaitu Ratna dan Tio yang akan memilih wahana nasional. Namun sekali lagi Tuhan mengingatkan untuk tetap percaya pada kuasaNya, dan di pagi harinya saat kami BGA dari Injil Lukas, Tuhan berbicara secara nyata melalui firmanNYA untuk melepaskan apa yang kita genggam erat-erat dan percaya pada tangan Tuhan.

Pagi itu kami menangis karena cukup menegur kami atas apa yang kami genggam erat-erat. Tuhan mau kami melayani di Siding dengan hati yang tulus dan jujur, untuk menyatakan hati Tuhan bagi orang-orang yang ada di Siding. Tuhan tidak mau pergumulan kami dan apa yang kami genggam menjadi penghalang untuk Tuhan bekerja bagi mereka. Tuhan mau mengatakan pada kami bahwa semua urusan kami sudah diatur dan diurus secara sempurna olehNya, DIA mau supaya kami berhenti mengurusi urusan kami dan mulai mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan kekuatan Tuhan, bukan kekuatan kami sendiri.

Kami sungguh dikuatkan dari FirmanNya, dan memulai pelayanan kami di SD 01 Siding dengan penuh sukacita. Ada satu hal yang kami semua temui pada anak-anak tersebut, mereka sangat susah diatur dan diberitahu, hati mereka sangat bebal dan keras dan mereka seperti anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih dari orang tua mereka. Awalnya beberapa dari kami sempat kewalahan untuk mengurusi mereka hingga nada suara kami harus lebih tinggi, namun hal itu seperti membuka mata kami bagaimana anak-anak tersebut rindu dan butuh kasih kami. Sepulang dari SD 01 Siding kami mengevaluasi kegiatan dan memikirkan apa yang harus kami kerjakan bagi anak-anak tersebut.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 7

Minggu kesembilan merupakan minggu kami live in di Siding. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, Siding adalah desa di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia yang hanya dipisahkan oleh bukit. Di minggu ini, kami benar-benar mengalami perjalanan iman bersama Tuhan. Tiga orang diantara kami harus mendaftarkan diri sebagai dokter internsip dan pada awalnya, waktu keluar jadwal pendaftaran, kami semua mendoakan untuk rencana pengunduran keberangkatan ke Siding. Awalnya sudah terjadwal bahwa kami akan ke Siding hari Senin, namun karena ada pemilihan wahana internsip, pemberangkatan kami ke Siding di undur hari Selasa. Ternyata pendaftaran internsip pun diundur menjadi hari Selasa dan jadi bertabrakan dengan keberangkatan ke Siding. Keadaan itu menghasilkan suatu kegalauan yang membuat kami benar-benar mencari kehendak Tuhan.

Kami ingat dengan jelas pada saat pause and pondering, Tuhan berbicara dengan sangat nyata kepada kami melalui firmanNya dalam Kejadian 28:10-22 mengenai mimpi Yakub di Betel, salah satu ayat yang menjadi kekuatan pada saat itu ialah di ayat 15 “sesungguhnya Aku menyertai engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Ku janjikan kepadamu”. Ayat itu adalah ayat yang menjadi kekuatan bagi kami yang akan internsip dan percaya padaNya meski dalam ketakutan kami sebagai manusia membuat kami sempat menangis mengenai pemilihan wahana internsip. Dan di situlah kami mendapatkan kekuatan dari saudara-saudara MMC lainnya dan kakak-kakak yang ada di Rumah Sakit Bethesda. Mereka terus mendoakan dan memberi kekuatan iman pada kami.

Hari pemilihan internsip pun tiba dan kami tetap beriman untuk berangkat pada hari Selasa yang bertepatan dengan waktu pemilihan lokal wahana internsip. Kami beriman di mana pun Tuhan menempatkan kami, di situlah yang terbaik bagi kami. Kami berangkat ke Siding menggunakan pick up selama tiga jam perjalanan darat, dan pada saat di perjalanan kami mendapatkan kabar baik bahwa Estica mendapat daerah internsip di Blora yang merupakan salah satu tempat tujuan internsip yang telah ia doakan. Kami sangat bersuka cita dalam melanjutkan perjalanan ke Siding.

Perjalanan ke Siding selanjutnya harus naik sampan selama tiga jam, sehingga total perjalanan kami enam jam jika lancar. Namun pada saat itu, sampan yang kami tumpangi tersendat dalam perjalanan karena ada bagian sungai yang dangkal. Kami harus turun dan mendorong sampan itu ke bagian sungai yang dalam. Menjadi sebuah pengalaman yang baru bagi kami untuk mendorong sampan, makan hingga tidur di atas sampan karena kelelahan, dan kami bersyukur karena itu semua membuat kami semakin akrab satu sama lain. Kami ke Siding bersama drg. Bruce, dr. Mangontang Sitorus, Sp.OG dan drg. Muktar. Mereka ikut serta dalam pelayanan kami di Siding dan bagi kami kehadiran mereka sangat berarti.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 6

Memasuki minggu kedelapan, ada sukacita dan semangat yang baru bagi kami. Energi dan antusiasme kami terasa di-recharge kembali sekaligus sebagai minggu persiapan kami ke Siding, salah satu desa di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia). Di minggu itu kegiatan kami penuh dengan trauma training yang dibawakan oleh dr. Giles dan dr. Catrine yang merupakan dokter spesialis emergensi dari Cambridge, Inggris. Yang menarik ialah Tuhan dengan secara luar biasa memakai mereka dan menggabungkan serta menghubungkan antara firman Tuhan dengan trauma training. Trauma training yang diikuti bukan hanya untuk dokter umum saja, namun juga oleh perawat. Sungguh merupakan kesempatan berharga bagi kami, mendapatkan pelajaran mengenai trauma training dan bersyukur karena Tuhan memberikan pengajar terbaik.

Kami juga diajar oleh drg. Bruce dan dr. Sonya, mereka merupakan pasangan dokter misionaris dari Amerika yang saat ini melayani untuk suku Sunda di Bandung. Mereka juga mengajarkan banyak hal kepada kami, terutama bagi teman-teman sejawat dokter gigi. Ada satu hal yang agak menggelitik benak kami saat sharing, dr. Bruce dan dr. Sonya berkisah selama 12 tahun tinggal di Indonesia mereka selalu mendoakan agar bisa praktik di Indonesia, karena selama ini mereka tidak bisa mengurus surat izin praktik di Indonesia. Demikian pula di RS Bethesda, mereka mendoakan agar dokter misionaris asing bisa bekerja di rumah sakit misi, karena jumlahnya tenaga dokter dan dokter spesialis yang bermisi masih minim. Hal tersebut mengingatkan kami secara pribadi, di kampus kami beredar informasi tentang pasar global yang akan terbuka di Indonesia, dan hal itu menjadi ancaman bagi dokter-dokter Indonesia karena akan bersaing dengan dokter-dokter asing. Hal itu awalnya tampak mengancam bagi mahasiswa kedokteran yang ada di Indonesia, namun di balik itu, pasar global merupakan jawaban doa bagi dokter-dokter yang bermisi, terutama dokter-dokter misionaris dari luar negeri yang memiliki kerinduan dan mendapat visi dari Tuhan bagi Indonesia. Sekali lagi kami melihat kuasa doa yang Tuhan kerjakan nyata. Tuhan memakai siapa saja, termasuk pemerintah dan presiden Indonesia, sebagai jalan untuk mengerjakan panggilan dari Tuhan, dan kami takjub akan hal itu. Bagi orang-orang yang percaya pada Kristus dan mendapat visi yang jelas dari Kristus untuk Indonesia, hal itu merupakan kesempatan untuk mengabarkan Injil ke setiap pelosok negeri ini. Seharusnya menjadi suatu perenungan bagi kita semua dokter pengikut Kristus, mengapa kita tidak mau membuka hati dan mencari kehendak Allah bagi bangsa kita sendiri sampai Allah bahkan memakai orang asing? Ke mana hati dan pikiran kita selama ini melihat bangsa kita sendiri?

Kami mengakhiri minggu kedelapan dengan sebuah persahabatan dan kekeluargaan yang baru bersama dr. Giles, dr. Catherine, drg. Bruce dan dr. Sonya. Kekeluarga lintas benua terbangun sangat karib dalam Kristus dan belum tentu kami peroleh di luar sana. Kami juga belajar satu hal dari mereka, yaitu ketaatan mereka dalam mencintai Tuhan dan mencari apa yang Tuhan mau untuk mereka kerjakan. Menurut pandangan dunia, mereka bukanlah orang yang sembarangan, mereka adalah orang-orang pandai yang memiliki sederetan gelar yang cukup panjang, orang-orang yang sudah mapan di negara masing-masing, namun Tuhan memilih dan mereka mau taat. Ketaatan mereka membuat mereka meninggalkan zona nyaman mereka dan hidup pada tuntunan Tuhan untuk mengabarkan Injil ke manapun Tuhan arahkan. Sekali lagi kami belajar mengenai ketaatan pada Tuhan. Tuhan mencari orang yang mau, bukan sekadar yang mampu, dan Tuhan bisa memakai siapa saja. Orang-orang yang mampu dan profesional di bidangnya saja mau dipakai oleh Tuhan dan terus mencari tuntunan Tuhan bagi hidup mereka, sedangkan siapakah kami ini? Kami tidak semampu dan seprofesional mereka, kami hanyalah dokter yang baru lulus dan belum memiliki banyak pengalaman, akankah saya juga malas dan tidak mau mencari tuntunan Tuhan bagi hidup saya?

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 5

Pada minggu ketujuh tersebut, kami mengikuti retreat di Pasir Panjang bersama para dokter umum, konsulen, mahasiswa akper, perawat dan PKMD. Dengan persiapan yang cukup singkat, kami diikutsertakan dalam kepanitian lokal retreat. Sebenarnya cukup mendesak dan membuat kami sedikit repot tapi saat-saat itulah yang berharga dan semakin menyatukan kami. Begitu padatnya aktivitas kami, dan berlanjut rapat retreat setelah pukul sembilan malam, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi antusiasme kami. Kami semakin menyadari bahwa bekerja untuk Allah itu membawa sukacita sekalipun tubuh kami lelah dan terbatas.

Mengawali retreat kami, Kak Tadius membawakan materi pause and pondering. Ada hal yang menggelikan saat sesi tersebut, salah satu teman kami yang paginya terlambat bangun, tertidur sepanjang sesi meski beberapa dari kami sudah berusaha membangunkannya. Sampai akhirnya kak Tadius mengakhiri sesi dan meminta kita mengambil saat pause and pondering, baru akhirnya dia terbangun dan melihat hal itu, kami tertawa terbahak-bahak. Menggelikan sekaligus membuat persahabatan di antara kami semakin terasa. Jam yang seharusnya kami gunakan untuk pause and pondering, kami gunakan untuk tidur sebelum retreat mulai. Kami tidur dengan menjejerkan bantal di lantai yang dialasi tikar di depan pintu rumah retreat, dan tidur bagaikan ikan pindang. Kami sangat menikmatinya, ditambah lagi angin laut yang bertiup sepoi-sepoi membuat kami rasanya tak ingin bangun sore itu.

Akhirnya retreat Rumah Sakit Umum Bethesda dimulai dengan pembicara dr. Giles yang merupakan dokter spesialis emergensi dari Cambridge Inggris dan membawakan eksposisi dari Efesus. Kami dibukakan mulai dari Efesus 1-6 dan di setiap pasal dinyatakan bahwa Allah begitu mengasihi dunia, dan Dia membuat manusia bukan hanya berdamai dengan Allah tapi juga dengan sesamanya. Eksposisi diakhiri di pasal yang keenam, dengan 4 hal yang selalu harus diingat yaitu jadilah kuat, berdiri teguh, gunakan senjata Allah dan berdoa dalam Roh dan berdoa untuk orang-orang yang memberitakan Injil. Tidak hanya dr. Giles, beberapa pembicara lain juga mengisi retreat untuk panel diskusi dan kapita selekta seperti Kak Ria Pasaribu dari Jakarta, dr.Lydia dan Kak Tadius dari Jakarta, serta Bu Beacky dan dr. Paul yang merupakan dokter misionaris dari Amerika. Mereka memberikan materi mengenai pelayanan dalam bidang profesi masing-masing, baik dokter maupun perawat. Kami diajarkan bagaimana bekerja sama dalam tim untuk sama-sama melayani dalam profesi kami karena pelayanan kesehatan tidaklah terpisah, pelayanan kami di rumah sakit itu menjadi satu. Seusai dari retreat, kami sebagai tim MMC X merasa semakin akrab dengan kakak-kakak dokter umum, perawat dan konsulen yang ada di rumah sakit dan bagi kami retreat adalah salah satu tempat di mana kami me-refresh kembali pelayanan kami.

 

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 4

Minggu ketujuh di Serukam diawali dengan sesi bersama Kak Tadius. Kami diajarkan mengenai karakter. Ternyata karakter itu butuh waktu lama untuk dibentuk, dan kami juga dibukakan mengenai panggilan, membedakan panggilan Allah saat ini antara persiapan panggilan atau panggilan yang sesungguhnya. Selain itu, kami juga belajar mengenai personal and spiritual growth, doctor’s inner and outer life, lectio divina, simplicty, providensi Allah dan pemilihan pasangan hidup yang dibawakan oleh Kak Lydia. Kak Lydia juga mengajarkan mengenai disiplin dan pengembangan diri seorang dokter, kami dibukakan dan diperhadapkan antara kesempatan, kemampuan dan daerah ‘keberhasilan’.

Pada minggu itu kami juga diajarkan mengenai kepemimpinan oleh Kak Donda. Kak Donda adalah salah satu pegawai di rumah sakit misi yang mengurus manajemen medgo di RSU Bethesda. Kami belajar mengenai kepemimpinan melalui kitab Nehemia yang mengisahkan seorang pemimpin yang mendapat visi dari Tuhan untuk berdiri bagi bangsanya. Kami merenungkan mengapa kami terlahir di bangsa Indonesia? Apa yang Tuhan mau untuk kami kerjakan bagi bangsa ini? Mungkin beberapa dari kami tidak pernah terpikirkan sebelumnya, atau pernah mendengar keadaan bangsa ini tapi belum benar-benar membuka mata mengenai keadaan yang sesungguhnya. Kami mulai menyadari dan mencari visi yang Tuhan taruhkan untuk bangsa ini. Kak Donda juga menceritakan pengalamannya bersama Tuhan dalam hal visi bagi bangsa ini, bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja, di bagian apapun dan di manapun itu. Tuhan hanya meminta hati yang mau terbuka dan taat pada kehendakNya.

…bersambung