Medical Mission Course X Serukam – Part 10

Keadaan sangat timpang antara kehidupan di kota dan di desa terutama daerah perbatasan. Di Siding kami hanya bisa menyalakan lampu menggunakan genset dari jam lima sore hingga sembilan malam karena harus menghemat bensin. Selain itu, di Siding tidak ada sinyal telepon genggam yang kuat dari Indonesia, hanya ada sinyal dari Malaysia yang mahal dan hilang timbul, sampai-sampai telepon yang digunakan harus di ikat di kayu atau bambu dan diletakkan agak tinggi. Untuk menelpon harus menggunakan headset dan sangatlah terasa sulitnya berkomunikasi dengan dunia luar di sana. Suatu pengalaman yang baru bagi kami dan merupakan hal yang miris untuk bangsa ini.

Kemudian, di Siding tidak ada tenaga kesehatan baik bidan, perawat ataupun dokter. Adanya Puskesmas di sana seolah hanya sebagai hiasan yang mengisi kekosongan hutan, berdiri dengan gagah tapi tidak ada tenaga kesehatan yang bekerja di sana. Masyarakat Siding biasanya berobat ke Seluas yang jaraknya tiga jam perjalanan sungai, atau ke Malaysia dengan berjalan kaki melewati bukit sejauh dua jam perjalanan. Terakhir, di Siding kekurangan tenaga pengajar, guru yang bekerja di Siding sangat sedikit dengan jumlah siswa yang tergolong banyak meski belum semua anak sekolah, serta tidak adanya SMA sehingga banyak yang tidak melanjutkan sekolah atau harus melanjutkan SMA ke Seluas.

Kami juga melayani persekutuan kaum ibu, kaum bapak, melakukan home visit dan KKR. Setiap pelayanan kami selama di Siding mebuat kami melihat dan belajar banyak hal atas ladang yang Tuhan bukakan, dan kami semua sangat bersyukur boleh dipakai oleh Tuhan untuk melihat ladang pelayanan yang ada di negeri ini.

Pelayanan kami tidak hanya di Siding, kami juga ke desa seberang yang ditempuh satu jam lewat sungai. Saat itu begitu berkesan karena kami melintasi sungai di malam hari dengan hujan deras dan satu senter saja. Di waktu itu, Tuhan memberikan penyertaan dan penyataanNya. Tuhan menghadirkan kilat di tengah sungai yang gelap agar kami bisa melihat jalan di depan dan menghadirkan kunang-kunang di kanan dan kiri hutan agar kami tahu dan tidak menabrak tepi sungai. Walau terasa mendebarkan, malam itu menjadi sebuah pengalaman dan memori yang tidak dapat dilupakan dan digantikan dengan apapun juga.

Kami meninggalkan desa Siding dengan doa dan harapan agar firman yang kami beritakan menjadi firman yang hidup bagi semua orang yang ada di desa Siding dan berharap ada kesempatan yang Tuhan izinkan di lain waktu untuk kami satu tim kembali ke desa Siding dan melihat buah pelayanan kami disana.

Medical Mission Course X Serukam – Part 9

Siang itu menjadi jawaban dari kegalau tempat pemilihan wahana internsip, Tio mendapatkan tempat internsip di Palembang, sesuai dengan apa yang ia doakan selama ini karena hatinya untuk bermisi di suku-suku yang sama sekali belum mengenal dan mendengar Injil, sedangkan Ratna juga mendapat sesuai dengan apa yang Tuhan telah tunjukkan sebelumnya melalui firmanNya, untuk pergi dan menjadi orang asing di tempat yang Tuhan tunjukkan baginya, meskipun itu berarti bukan tempat internsip yang diharapkan sebelumnya. Ratna mendapat tempat internsip di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Tempat yang tidak pernah diduga bahkan di dengar sebelumnya, hal itu membuatnya menangis. Namun dengan lembut dan pelukan yang hangat saudara-saudara MMC menguatkan dan mendoakannya, Ratna merasa sangat dikuatkan.

Tuhan benar-benar ingin kami semua melepaskan apa yang kami genggam erat dan fokus pada pekerjaan dan kekuatan yang Tuhan berikan untuk menjalankan pekerjaanNYA. Setelah kejadian itu, langkah kami semakin kuat dan pasti untuk mengerjakan hal-hal yang Tuhan bukakan setiap harinya selama di Siding. Kami melayani anak-anak yang ada di sana setiap hari dari pagi hingga malam karena jumlahnya begitu banyak dan sukar diatur, namun sangat bersyukur setiap harinya Tuhan membukakan dan mengajarkan kepada kami dengan kasih dan lembut hingga pada akhirnya mereka menjadi anak-anak yang mudah diatur bahkan mengatur diri dan teman-teman mereka sendiri jika ada yang ribut atau nakal. Pekerjaan Tuhan yang mengubahkan sangatlah nyata, dan kami melihat akan hal itu.

Kami juga melayani ke SMP 01 Siding dan membukakan kepada mereka mengenai kekudusan hidup sekaligus memperkenalkan tentang Juruselamat kepada anak-anak di SMP tersebut. Banyak hal yang mencengangkan ketika kami melayani anak-anak yang ada di sana. Ternyata mereka kurang diperhatikan oleh orang tua, karena orang tua mereka sibuk di ladang dari pagi hingga malam, bahkan tidak sedikit dari orang tua mereka yang tidak pulang karena menginap di ladang. Mereka juga kurang mendapat pengajaran mengenai norma etika dan budaya. Sebagian besar dari mereka bahkan sudah merokok sejak kecil karena mereka tidak pernah dilarang, diperingatkan atau ditegur oleh orang tua mereka. Lebih miris lagi ketika kami tahu bahwa tidak sedikit dari mereka yang duduk di bangku SMP sudah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan hingga hamil. Kami sangat sedih melihat keadaan disana dan selama kami disana Tuhan benar-benar membukakan mengenai realita keadaan perbatasan bangsa ini. Hal ini membuat kami bertanya-tanya dalam hati, apa yang bisa kami kerjakan dan lakukan bagi bangsa ini.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 8

Ketika sampai di Siding, kami disambut oleh anak-anak kecil yang sedang bermain di sekitar sungai. Para warga juga membantu kami mengangkat barang dari sampan hingga ke gereja tempat kami tinggal, dan ada satu suka cita yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kami telah diberitahukan sebelumnya bahwa di Siding pada umumnya sangat sulit untuk mendapatkan sinyal telepon, serta tidak ada listrik sama sekali.

Bagi kami ini berbeda dengan pengalaman sebelumnya ke Nanga Baram, karena kami butuh berkomunikasi dengan teman kami yang mendaftarkan wahana internsip untuk dua orang lainnya yaitu Ratna dan Tio yang akan memilih wahana nasional. Namun sekali lagi Tuhan mengingatkan untuk tetap percaya pada kuasaNya, dan di pagi harinya saat kami BGA dari Injil Lukas, Tuhan berbicara secara nyata melalui firmanNYA untuk melepaskan apa yang kita genggam erat-erat dan percaya pada tangan Tuhan.

Pagi itu kami menangis karena cukup menegur kami atas apa yang kami genggam erat-erat. Tuhan mau kami melayani di Siding dengan hati yang tulus dan jujur, untuk menyatakan hati Tuhan bagi orang-orang yang ada di Siding. Tuhan tidak mau pergumulan kami dan apa yang kami genggam menjadi penghalang untuk Tuhan bekerja bagi mereka. Tuhan mau mengatakan pada kami bahwa semua urusan kami sudah diatur dan diurus secara sempurna olehNya, DIA mau supaya kami berhenti mengurusi urusan kami dan mulai mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan kekuatan Tuhan, bukan kekuatan kami sendiri.

Kami sungguh dikuatkan dari FirmanNya, dan memulai pelayanan kami di SD 01 Siding dengan penuh sukacita. Ada satu hal yang kami semua temui pada anak-anak tersebut, mereka sangat susah diatur dan diberitahu, hati mereka sangat bebal dan keras dan mereka seperti anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih dari orang tua mereka. Awalnya beberapa dari kami sempat kewalahan untuk mengurusi mereka hingga nada suara kami harus lebih tinggi, namun hal itu seperti membuka mata kami bagaimana anak-anak tersebut rindu dan butuh kasih kami. Sepulang dari SD 01 Siding kami mengevaluasi kegiatan dan memikirkan apa yang harus kami kerjakan bagi anak-anak tersebut.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 7

Minggu kesembilan merupakan minggu kami live in di Siding. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, Siding adalah desa di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia yang hanya dipisahkan oleh bukit. Di minggu ini, kami benar-benar mengalami perjalanan iman bersama Tuhan. Tiga orang diantara kami harus mendaftarkan diri sebagai dokter internsip dan pada awalnya, waktu keluar jadwal pendaftaran, kami semua mendoakan untuk rencana pengunduran keberangkatan ke Siding. Awalnya sudah terjadwal bahwa kami akan ke Siding hari Senin, namun karena ada pemilihan wahana internsip, pemberangkatan kami ke Siding di undur hari Selasa. Ternyata pendaftaran internsip pun diundur menjadi hari Selasa dan jadi bertabrakan dengan keberangkatan ke Siding. Keadaan itu menghasilkan suatu kegalauan yang membuat kami benar-benar mencari kehendak Tuhan.

Kami ingat dengan jelas pada saat pause and pondering, Tuhan berbicara dengan sangat nyata kepada kami melalui firmanNya dalam Kejadian 28:10-22 mengenai mimpi Yakub di Betel, salah satu ayat yang menjadi kekuatan pada saat itu ialah di ayat 15 “sesungguhnya Aku menyertai engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Ku janjikan kepadamu”. Ayat itu adalah ayat yang menjadi kekuatan bagi kami yang akan internsip dan percaya padaNya meski dalam ketakutan kami sebagai manusia membuat kami sempat menangis mengenai pemilihan wahana internsip. Dan di situlah kami mendapatkan kekuatan dari saudara-saudara MMC lainnya dan kakak-kakak yang ada di Rumah Sakit Bethesda. Mereka terus mendoakan dan memberi kekuatan iman pada kami.

Hari pemilihan internsip pun tiba dan kami tetap beriman untuk berangkat pada hari Selasa yang bertepatan dengan waktu pemilihan lokal wahana internsip. Kami beriman di mana pun Tuhan menempatkan kami, di situlah yang terbaik bagi kami. Kami berangkat ke Siding menggunakan pick up selama tiga jam perjalanan darat, dan pada saat di perjalanan kami mendapatkan kabar baik bahwa Estica mendapat daerah internsip di Blora yang merupakan salah satu tempat tujuan internsip yang telah ia doakan. Kami sangat bersuka cita dalam melanjutkan perjalanan ke Siding.

Perjalanan ke Siding selanjutnya harus naik sampan selama tiga jam, sehingga total perjalanan kami enam jam jika lancar. Namun pada saat itu, sampan yang kami tumpangi tersendat dalam perjalanan karena ada bagian sungai yang dangkal. Kami harus turun dan mendorong sampan itu ke bagian sungai yang dalam. Menjadi sebuah pengalaman yang baru bagi kami untuk mendorong sampan, makan hingga tidur di atas sampan karena kelelahan, dan kami bersyukur karena itu semua membuat kami semakin akrab satu sama lain. Kami ke Siding bersama drg. Bruce, dr. Mangontang Sitorus, Sp.OG dan drg. Muktar. Mereka ikut serta dalam pelayanan kami di Siding dan bagi kami kehadiran mereka sangat berarti.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 6

Memasuki minggu kedelapan, ada sukacita dan semangat yang baru bagi kami. Energi dan antusiasme kami terasa di-recharge kembali sekaligus sebagai minggu persiapan kami ke Siding, salah satu desa di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia). Di minggu itu kegiatan kami penuh dengan trauma training yang dibawakan oleh dr. Giles dan dr. Catrine yang merupakan dokter spesialis emergensi dari Cambridge, Inggris. Yang menarik ialah Tuhan dengan secara luar biasa memakai mereka dan menggabungkan serta menghubungkan antara firman Tuhan dengan trauma training. Trauma training yang diikuti bukan hanya untuk dokter umum saja, namun juga oleh perawat. Sungguh merupakan kesempatan berharga bagi kami, mendapatkan pelajaran mengenai trauma training dan bersyukur karena Tuhan memberikan pengajar terbaik.

Kami juga diajar oleh drg. Bruce dan dr. Sonya, mereka merupakan pasangan dokter misionaris dari Amerika yang saat ini melayani untuk suku Sunda di Bandung. Mereka juga mengajarkan banyak hal kepada kami, terutama bagi teman-teman sejawat dokter gigi. Ada satu hal yang agak menggelitik benak kami saat sharing, dr. Bruce dan dr. Sonya berkisah selama 12 tahun tinggal di Indonesia mereka selalu mendoakan agar bisa praktik di Indonesia, karena selama ini mereka tidak bisa mengurus surat izin praktik di Indonesia. Demikian pula di RS Bethesda, mereka mendoakan agar dokter misionaris asing bisa bekerja di rumah sakit misi, karena jumlahnya tenaga dokter dan dokter spesialis yang bermisi masih minim. Hal tersebut mengingatkan kami secara pribadi, di kampus kami beredar informasi tentang pasar global yang akan terbuka di Indonesia, dan hal itu menjadi ancaman bagi dokter-dokter Indonesia karena akan bersaing dengan dokter-dokter asing. Hal itu awalnya tampak mengancam bagi mahasiswa kedokteran yang ada di Indonesia, namun di balik itu, pasar global merupakan jawaban doa bagi dokter-dokter yang bermisi, terutama dokter-dokter misionaris dari luar negeri yang memiliki kerinduan dan mendapat visi dari Tuhan bagi Indonesia. Sekali lagi kami melihat kuasa doa yang Tuhan kerjakan nyata. Tuhan memakai siapa saja, termasuk pemerintah dan presiden Indonesia, sebagai jalan untuk mengerjakan panggilan dari Tuhan, dan kami takjub akan hal itu. Bagi orang-orang yang percaya pada Kristus dan mendapat visi yang jelas dari Kristus untuk Indonesia, hal itu merupakan kesempatan untuk mengabarkan Injil ke setiap pelosok negeri ini. Seharusnya menjadi suatu perenungan bagi kita semua dokter pengikut Kristus, mengapa kita tidak mau membuka hati dan mencari kehendak Allah bagi bangsa kita sendiri sampai Allah bahkan memakai orang asing? Ke mana hati dan pikiran kita selama ini melihat bangsa kita sendiri?

Kami mengakhiri minggu kedelapan dengan sebuah persahabatan dan kekeluargaan yang baru bersama dr. Giles, dr. Catherine, drg. Bruce dan dr. Sonya. Kekeluarga lintas benua terbangun sangat karib dalam Kristus dan belum tentu kami peroleh di luar sana. Kami juga belajar satu hal dari mereka, yaitu ketaatan mereka dalam mencintai Tuhan dan mencari apa yang Tuhan mau untuk mereka kerjakan. Menurut pandangan dunia, mereka bukanlah orang yang sembarangan, mereka adalah orang-orang pandai yang memiliki sederetan gelar yang cukup panjang, orang-orang yang sudah mapan di negara masing-masing, namun Tuhan memilih dan mereka mau taat. Ketaatan mereka membuat mereka meninggalkan zona nyaman mereka dan hidup pada tuntunan Tuhan untuk mengabarkan Injil ke manapun Tuhan arahkan. Sekali lagi kami belajar mengenai ketaatan pada Tuhan. Tuhan mencari orang yang mau, bukan sekadar yang mampu, dan Tuhan bisa memakai siapa saja. Orang-orang yang mampu dan profesional di bidangnya saja mau dipakai oleh Tuhan dan terus mencari tuntunan Tuhan bagi hidup mereka, sedangkan siapakah kami ini? Kami tidak semampu dan seprofesional mereka, kami hanyalah dokter yang baru lulus dan belum memiliki banyak pengalaman, akankah saya juga malas dan tidak mau mencari tuntunan Tuhan bagi hidup saya?

…bersambung