Medical Mission Course X Serukam – Part 3

Pembicara lain yang datang di minggu keenam adalah dr. Edi Tehuteru yang merupakan dokter dengan bidang spesialisasi kanker anak. Beliau memberikan seminar mengenai perawatan paliatif. Kami diajak untuk melihat dan mengenal kebutuhan pasien terminal dari segi fisik, spiritual, emosional dan sosial. Salah satu hal yang selalu ditanamkan beliau, bahwa pekerjaan kita sebagai tenaga medis adalah pekerjaan yang menggunakan hati. Kita harus tahu bagaimana berbelas kasih pada pasien kita kelak, belajar mendengarkan dan memahami kebutuhan mereka. Banyak hal yang kami pelajari dari sosok dr. Edi, bukan hanya dari ilmu medis saja tetapi dari kerendahan hati dan totalitas beliau dalam melayani Tuhan dan melayani pasien. Beliau juga mengundang kami untuk berkunjung ke RS Kanker Dharmais dan melihat bagaimana konsep bangsal anak “smiling ward “dijalankan.

Di minggu yang sama kami juga berkesempatan untuk bedside teaching dengan dr. Edy Lubis, spesialis mata sekaligus direktur RSU Bethesda Serukam. Beliau mengajak kami untuk ikut dalam pemeriksaan di poli mata, serta melihat kasus mata yang banyak terdapat di masyarakat. Kami juga belajar dari dr.Kristian spesialis obsgin. Kami diajak untuk melihat dan belajar teknik pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) untuk mendeteksi dini kanker leher rahim dan dapat diterapkan jika kelak bekerja di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas dan alat. Kami juga diajak mengingat kembali mengenai berbagai kasus kegawatdaruratan di bidang obsgin. Begitu banyak pembekalan ilmu dan skill yang kami dapatkan selama MMC, baik dari pembicara luar maupun dari tenaga medis Serukam. Kami merasakan betapa kami masih memiliki banyak keterbatasan ilmu maupun pengalaman dalam bidang medis. Hal tersebut memacu kami untuk terus belajar dan memperbarui ilmu kami sehingga kelak siap ketika ditempatkan sebagai tenaga medis di manapun.

Di akhir minggu, kami menghadiri kegiatan persekutuan pemuda GKE Sinlu dan menyampaikan firman mengenai kekudusan hidup serta penyuluhan kesehatan reproduksi remaja. Esoknya di ibadah umum GKE Sinlu yang bertepatan dengan HUT gereja, kami mengikuti perayaan dan perjamuan kasih. Sungguh kami merasakan suasana keakraban dan kekeluargaan di antara jemaat. Setelah itu kami berkesempatan memberikan penyuluhan HIV/AIDS dan penyuluhan mengenai peran orangtua dalam perkembangan remaja.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 2

Minggu ke-5 kepulangan kami dari live in bertepatan dengan waktu kami memasuki baca gali Alkitab dari kitab Lukas mengenai laporan misi yang spektakuler dari murid yang diutus oleh Yesus untuk pergi. Di sini sama halnya seperti murid-murid yang begitu merasakan betapa besar kuasa dan penyertaan Tuhan, begitu pula kami yang telah melaksanakan live in merasakan betul providensi Tuhan, bahwa ketika Tuhan mengutus Dia juga yang memperlengkapi dan memberkati. Kami bersyukur karena pada ‘orang kecil’ seperti kita, Tuhan menyatakan berbagai hal besar, bukan karena kemampuan maupun latar belakang kita, tetapi hanya karena AnugerahNya. Pada minggu ini, juga diadakan workshop dan seminar Manajemen HIV/AIDS oleh dr. Ronald yang merupakan trainer WHO, dr. Adrian dan Bu Wita. Kami diberikan pengetahuan secara komprehensif mengenai HIV/AIDS mulai dari epidemiologi, patogenesis, infeksi oportunistik, pencegahan, terapi hingga konselingnya. Salah satu yang kami pelajari dari mereka adalah ketulusan hati dalam melayani penderita HIV/AIDS yang oleh sebagian orang dikucilkan dan dijauhi. Kami belajar bagaimana merangkul dan mengasihi mereka. Selain itu kami juga melakukan kegiatan pelayanan Paskah bagi anak Sekolah Minggu di desa binaan kami yaitu GKE Getsemani Sinlu. Kami mengadakan pementasan panggung boneka dengan tema Paskah, berbagai perlombaan dan kegiatan mencari telur bersama. Kami bersyukur melalui berbagai kegiatan tersebut kami boleh mengajak mereka untuk semakin mengenal karya keselamatan dari Tuhan sekaligus semakin mendekatkan kami dengan mereka.

Selanjutnya di minggu ke-6, oleh dr. Julius yang merupakan dokter misionaris dan istrinya Ibu Debora, kami dibukakan mengenai misi medis terutama dari pengalaman hidup dr. Julius dan Ibu Debora selama melayani di pedalaman Papua. Kami belajar bagaimana tenaga medis memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memberitakan Injil dan menyatakan kasih Tuhan. Kami juga belajar untuk memiliki “desire to seeking Him more”, mencari Tuhan dengan sungguh dan mengalami Tuhan yang nyata dan luar biasa dalam hidup kami masing-masing. Kami diajak untuk mengenali dan menjawab panggilan Tuhan dalam hidup kami terutama dalam profesi kami sebagai tenaga medis.

…bersambung

Medical Mission Course X Serukam – Part 1

Syaloom, perkenalkan kami dr. Ratna Indriana Donggori dan dr. Estica Tiurmauli K Sihombing, alumni FK UNDIP angkatan 2008 yang berkesempatan mengikuti MMC X di Serukam, Kalimantan Barat. Kami ingin melanjutkan berbagi cerita mengenai kegiatan kami selama MMC.

Pada minggu ke 4, MMC kedatangan tim dari Adam Road Presbyterian Church Singapore (ARPC) yang terdiri dari pendeta, dokter bedah plastik, dokter anastesi, dokter umum dan perawat. Mereka memberikan lecture dan bed side teaching sesuai dengan bidang spesialisasinya masing masing. Kami terkesan oleh Rev. Adrin Munos (tim ARPC) yang memberikan pengajaran mengenai personal testimony dan radio preaching serta prakteknya untuk membekali kami dalam bermisi kelak.

Di akhir minggu ke 4 kami berangkat live in di klinik Nanga Baram yang merupakan klinik binaan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) Rumah Sakit Bethesda Serukam. Klinik Nanga Baram sendiri terletak di Dusun Baram, Desa Paoh Concong, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Perjalanan dari Serukam menuju klinik tersebut membutuhkan waktu sekitar 10-12 jam. Perjalanan menuju kesana cukup lama dan melewati medan yang cukup berat saat menyeberangi sungai Kapuas, akan tetapi penyertaan Tuhan kami rasakan sepanjang perjalanan.

Sesampainya kami di Nanga Baram, kami melakukan penyuluhan di 3 Sekolah Dasar yang terletak di sekitar klinik. Saat menempuh perjalanan, kami harus menembus hutan dengan menaiki sepeda motor sekitar 1,5 jam dari klinik menuju SD Tanjung Maju. Salah satu teman kami bahkan sempat terjatuh dari motor karena licinnya jalan. Puji Tuhan teman kami tidak terluka dan kami dapat melanjutkan perjalanan lagi. Meskipun cuaca kurang mendukung karena hujan, para murid dan guru tetap bersemangat menyambut kami. Kami melakukan penyuluhan mengenai kesehatan gigi, latihan cuci tangan dan sikat gigi bersama, pemeriksaan status caries, pembagian obat cacing dan pewartaan Injil bagi anak-anak SD tersebut. Di gereja lokal setempat yaitu Gereja Firman Allah (GFA) kami membawakan penyuluhan kesehatan dan penyampaian Firman Tuhan melalui kegiatan Sekolah Minggu dan persekutuan pemuda.

Minggu setelah kegiatan gereja selesai, kami berkunjung ke rumah para anggota jemaat yang memiliki kerinduan untuk dikunjungi dan didoakan. Kami begitu merasakan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan sepanjang program live in ini. Meskipun ada kendala mulai dari cuaca yang terus menerus hujan, keterbatasan fasilitas, masalah transportasi, kesulitan komunikasi karena tidak adanya sinyal, hingga kesulitan dalam persiapan penyuluhan, Tuhan terus menyatakan pemeliharaanNya. Dalam keterbatasan dan ketidakmampuan kami sebagai manusia, Tuhan menunjukan kuasanya. Dia yang mengutus kita adalah setia, Dia juga yang memperlengkapi dan memberkati kita. Tuhan mencukupkan sehingga segala perencanaan yang kami lakukan dapat terlaksana. Banyak yang kami pelajari selama live in ini, kami belajar mengandalkan Tuhan dalam segala keterbatasan, belajar tentang kesehatian dan kesatuan dalam tim, belajar untuk melayani sesama dengan totalitas dan dengan ketulusan hati. Program live in ini memberikan dampak yang sangat kuat dalam hati kami masing-masing, kami pulang dengan perasaan sukacita dan semakin dikuatkan untuk terus melayaniNya.

…bersambung

Penyuluhan Kesehatan Getasan, Kopeng

Shallom semuanya! Saya Olivia Roxanne PMKK angkatan 2013. Saya akan sharing sedikit tentang pelayanan kesehatan yang dilakukan PMKK pada 1 Mei 2015 di Desa Diwak, Kecamatan Getasan, Kopeng.

Bekerjasama dengan tim dari  STT Kristus Alfa Omega dan Fakultas Seni Pertunjukan UKSW, di sana PMKK berbagi kasih dengan mengadakan penyuluhan kesehatan, cek tensi – gula darah – kolesterol, dan konsultasi kesehatan gratis bagi warga Desa Diwak. Penyuluhan yang kami lakukan bertopik Diabetes Melitus, khususnya Diabetes Melitus tipe II.

Mengapa Diabetes Melitus ?

Penyuluhan Kesehatan 3

Secara statistik, prevalensi Diabetes Melitus di desa Diwak cukup tinggi. Diabetes Melitus yang dibicarakan adalah tipe II, yang secara kuat dipengaruhi oleh gaya hidup terutama diet harian warga. Setelah ditelusuri, warga Desa Diwak memiliki kesukaan untuk mengkonsumsi teh manis, gorengan, dan lain-lain makanan maupun minuman yang berkalori tinggi tanpa diimbangi dengan aktivitas yang seimbang. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat penyakit DM tipe II dapat dicegah. Selain itu, kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin relatif rendah. Warga lebih suka mencari obat sendiri ke warung-warung atau tidak berobat sama sekali. Obat yang diperoleh di warung tentu tidak diresepkan oleh tenaga medis sehingga hanya mengobati gejala yang dikeluhkan.

Apa yang PMKK lakukan? Baca lebih lanjut

Sharing MMC: Tiga Minggu Pertama di Serukam

Oleh dr. Ratna Indriana Donggori dan dr. Estica Tiurmauli Sihombing

Syaloom, perkenalkan kami dr. Ratna Indriana dan dr. Estica Tiurmauli Sihombing, alumni FK UNDIP 2008, dan kami terpanggil untuk mengikuti MMC X yang diadakan oleh PMdN. Minggu pertama kami, kami habiskan di OMF, Cempaka Putih, Jakarta. Kami tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Medical Mission Course yang diadakan oleh PMdN dan bekerja sama dengan RSU Bethesda Serukam adalah “real mission” and “this is a real mission trip”. Awalnya kami mengikuti MMC dengan niat dan motivasi untuk bagaimana menjadi dokter yang berkenan di hati Allah. Namun minggu pertama di OMF membuat kami tercengang dan shock, ternyata ini bukan sekedar “belajar mengetahui”. Lebih dari itu, ini “Belajar melakukan kehendak Allah”. “Calling” yang sering kali kami dengar saat PJS dari pendeta ataupun kakak-kakak senior ternyata bukan sekedar “calling” yang semu atau kamuflase. “calling” yang dimaksud adalah benar-benar dari ALLAH dan itu cukup membuat kami shock apakah benar kami bisa sungguh-sungguh mendengar “calling” yang dimaksud. Hari demi hari yang kami lalui di OMF membuat kami banyak belajar dan kami cukup banyak tahu bahwa kami tidak tahu apa-apa tentang Alkitab yang selama ini kami baca dan Allah serta pekerjaanNya yang selama ini kami sembah. Setiap pelajaran yang setiap hari kami dapat di OMF benar-benar menjadi bekal sebelum kami ke Serukam. Sampai akhirnya di hari terakhir kami di Jakarta, sempat terbersit dalam hati “Benarkah besok kami akan menginjakkan kaki ke Kalimantan untuk pertama kalinya? Benarkah kami benar-benar dapat menemukan “calling” yang dimaksud? Siapkah kami untuk bermisi?” Baca lebih lanjut